Gua prasejarah Leang Bulu Sipong 4 di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menyimpan salah satu bukti penting peradaban manusia. Di dinding gua ini terdapat lukisan cadas berusia sekitar 44.000 tahun yang menggambarkan adegan perburuan oleh manusia prasejarah, yang disebut sebagai salah satu seni gua tertua di dunia.
Keberadaan situs purbakala tersebut berada di kawasan tambang tanah liat milik PT Semen Tonasa, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG). Perusahaan pun menetapkan kawasan ini sebagai area konservasi untuk menjaga kelestarian warisan budaya sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Cagar budaya Bulu Sipong 4 berada di Bukit Bulu Sipong, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Pangkep. Situs ini pertama kali ditemukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar pada 2016.
Penemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penelitian pertanggalan sampel lukisan cadas serta kerja sama antara PT Semen Tonasa dan Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk melindungi gua prasejarah tersebut.
Atas rekomendasi SIG sebagai induk perusahaan, PT Semen Tonasa menetapkan kawasan Bulu Sipong seluas 31,64 hektare atau sekitar 11,3 persen dari total area tambang 280 hektare sebagai kawasan konservasi.
Pada 18 Mei 2018, perusahaan meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong untuk melindungi ekosistem sekitar tambang sekaligus menjaga kawasan geologi dan situs purbakala. Bulu Sipong 4 kemudian menjadi salah satu geosite Geopark Maros-Pangkep yang masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark melalui keputusan Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris pada 2023.
Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan, penetapan kawasan Bulu Sipong sebagai kawasan konservasi menunjukkan komitmen perusahaan dalam menyeimbangkan aktivitas industri dengan pelestarian lingkungan dan nilai budaya.
Menurutnya, kawasan ini tidak hanya dilindungi tetapi juga dikembangkan sebagai sarana edukasi yang dapat memperkenalkan sejarah dan budaya peradaban manusia kepada masyarakat luas.
“Perusahaan juga berkolaborasi dengan LPPM Universitas Hasanuddin untuk merilis Cultural Heritage Management Plan situs prasejarah Bulu Sipong 4 sebagai panduan pengelolaan warisan budaya secara berkelanjutan,” ujar Vita.
Selain itu, PT Semen Tonasa bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX dalam berbagai langkah perlindungan, seperti pemantauan getaran dan kualitas udara secara berkala, pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter, serta penyiraman jalan tambang untuk mengurangi debu.
Perusahaan juga melakukan edukasi kepada karyawan dan masyarakat sekitar tentang pentingnya pelestarian situs prasejarah, memasang pagar pembatas sepanjang 1.900 meter, serta melakukan revegetasi di kawasan konservasi.
Habitat Flora dan Fauna
Selain memiliki nilai arkeologi, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat alami berbagai flora dan fauna yang indeks keanekaragaman hayatinya terus meningkat.
Hingga 2025, tercatat terdapat 25 jenis flora dengan total 2.898 pohon, di antaranya eboni (Diospyros celebica), kayu kuku (Pericopsis mooniana), dan bitti (Vitex cofassus) yang merupakan tanaman endemik Sulawesi.
Kawasan ini juga menjadi habitat 41 jenis satwa liar, terdiri dari 37 jenis burung, dua primata, satu unggas, dan satu reptil. Total satwa yang terpantau mencapai 869 ekor, termasuk monyet dare (Macaca maura) dan tarsius, primata endemik yang dilindungi.
Vita menambahkan, pada 2025 nilai Indeks Kehati Flora di kawasan ini meningkat menjadi 1,54, naik dari 1,38 pada 2020. Sementara Indeks Kehati Fauna juga naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51.
“Kenaikan indeks ini menunjukkan kawasan Bulu Sipong semakin asri dan menjadi benteng pelindung bagi keanekaragaman hayati sekaligus warisan arkeologi di dalamnya,” katanya.
Atas upaya tersebut, SIG dan PT Semen Tonasa juga mendapat kesempatan memaparkan program perlindungan situs Bulu Sipong dalam forum internasional SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts (SPAFACON) 2024 serta Indonesia Geopark Leader Forum 2025.






